Perbedaan Kamera Fullframe & APS C

Kamera Foto era yang lalu menggunakan negatif film berukuran 35mm. (actual measurement 36mm x 24mm), tidak peduli apakah kamera pocket maupun kamera SLR, pada era itu semua-nya menggunakan Seluloid / Film berukuran 35m (tentunya ada juga kamera Medium Format yg menggunakan film ukuran 120mm tapi tidak kita bahas disini).

Kemudian dgn seiring merambahnya teknology digital di dunia fotografi, perlahan penggunaan Negative Film ditinggalkan. Kenapa dibilang perlahan? Karena memang ada rentang waktu yg cukup panjang Sensor digital masih jauh kemampuan-nya dan hasil-nya dibanding dari negatif film dan juga biaya pembuatan sensor yang masih tinggi.
Sehingga sekitar 1 dekade masa peralihan, (kisaran 1999-2009), kala itu sensor digital umumnya masih hanya utk kamera2 Pocket, sementara untuk kebutuhan yang lebih serius, para Fotografer masih mempercayakan pada Seluloid / Film.
Kemudian saat ini, (boleh dibilang sejak 2009 kesini) semua perangkat fotografi mulai dari kamera DSLR, kamera poket, (termasuk prosumer dan mirrorless) menggunakan Sensor Digital.
Nah, mulai ada SLR yang menggunakan ukuran sensor 35mm yang disebut kamera Full frame.
Namun untuk menekan biaya produksi dan harga jual, sensor digital ada yang dibuat dengan ukuran kecil. ukuran kecil disini, adalah lebih kecil dari ukuran seluloid/negative 35mm. Yang umum adalah Sensor APS-C yang ukurannya lebih kecil dari sensor Full frame. Karena untuk ukuran yang lebih kecil daripada fullframe (non full frame) ada berbagai ukuran, seperti Canon yg memiliki Sensor dgn ukuran APS-H (27.90×18.60) atau Nikon DX (23.60×15.60) atau yg paling umum adalah APS-C Canon (22.20×14.80)

Kelebihan kamera Fullframe :

1. Focal Length lebih lebar

Selain kamera, lensa DSLR pun memiliki 2 tipe, yaitu tipe fullframe (FX pada Nikon, EF pada Canon) dan non-full frame-nya (DX pada Nikon, EF-S pada Canon). Dan perlu diingat bahwa kamera fullframe hanya bisa menggunakan lensa fullframe saja! Para fotografer lansekap lebih suka menggunakan kamera full frame karena cakupan focal length-nya yang lebih lebar. Mengapa demikian..? Misalnya sebuah kamera full frame (misal, D800) dipasangkan dengan lensa Nikon AF-S 24-70mm FX maka zoom yang dihasilkan adalah murni 24-70mm. Sedangkan jika sebuah lensa Nikon AF 24-70mm FX dipasangkan dengan Nikon D7100 rentang zoom (focal length) yang dihasilkan ialah focal length X crop factor yang akan merubah nilai rentang zoom lensa tersebut menjadi 36-105mm (24-70mm x 1,5).

2. Lebih peka terhadap cahaya

Karena sensornya yang lebih besar maka daya tampung cahayanya pun lebih banyak. Hal ini membuat dalam kondisi gelap kamera full frame masih memiliki kepekaan dari pada kamera crop factor.

3. Noise lebih rendah

Seperti yang sudah diterangkan diatas, karena sensornya yang besar dan lebih peka terhadap cahaya maka penggunaan ISO bisa lebih kecil daripada kamera non-full frame. Misalnya dalam kondisi ruangan yang gelap digunakan kamera full frame dengan ISO 600 dan kamera APS-C dengan ISO 600, tentu noise yang dihasilkan lebih sedikit dan lebih terang (karena peka cahaya) kamera bersensor full frame. Karena sensornya yang lebih besar,

4. Ruang tajam lebih sempit

Jika teman-teman menginginkan ruang tajam (depth of field) yang sempit maka berkat sensor yang lebih besar ruang tajam yang didapat juga semakin sempit. Sangat cocok untuk mendapatkan bokeh.

Kelebihan kamera APS-C

  1. Speed FPS lebih tinggi.

Ya betul, kamera dgn Sensor yg lebih kecil umumnya memiliki burst FPS yg lebih cepat, ini berguna untuk menangkap gambar-gambar bergerak seperti fotografi Sport (sepakbola, balap mobil dst).
Analogi-nya begini : anda disuruh melukis di kanvas full ukuran 30cm x 30cm tentu akan lebih cepat selesai daripada melukis diatas kanvas full ukuran 100cm x 100cm.
Karena alasan Speed itulah akhirnya pernah dirilis kamera dgn sensor APS-H yang bertujuan sebagai Kompromi antara kelebihan Sensor Full Frame dan FPS tinggi pada sensor APS-C. Salah satu-nya Canon pada pada keluarga EOS 1D. Karena ukuran sensor APS-H lebih besar daripada APS-C namun sedikit lebih kecil daripada Full Frame. Jadi burst Frame per Second (FPS) bisa tinggi, namun kualitas gambar tidak terlalu dikorbankan. Kamera Canon dgn sensor APS-H dari Canon EOS 1D Mark I – Mark IV, skrg sudah dscontinue.

2. Harga lebih murah

Karena sensor merupakan hal paling mahal dalam sebuah kamera digital, ukuran sensor yang semakin kecil tentu akan mengurangi cost yang membuat harga semakin murah. Tapi kadang di Beberapa merek terjadi Anomali, dimana ada beberapa type Non Full Frame harganya lebih mahal dari yg Full Frame. Hal ini biasanya dikarenakan teknologi yang disematkan.
contoh Sony @6500 yg harganya lebih mahal dari Sony A7 maupun Sony A7ii yang menggunakan sensor Full Frame.

2. Rentang zoom lebih tinggi (tele)

Berkebalikan dengan lensa full frame yang cocok untuk memotret wide, kamera APS-C memiliki zoom yang lebih tinggi. Masih menggunakan rumus yang sama, focal length x sensor. Misal, kamera Nikon D7100 dipasangkan dengan lensa AF-S 70-200mm FX maka zoom yang akan dihasilkan ialah 1.5x-nya yaitu 105-300mm. Bahkan para fotografer olahraga yang menggunakan kamera APS-C karena rentang zoom-nya yang lebih panjang daripada kamera full frame.

3. Ukuran lebih ringkas

Hal ini juga disebabkan karena ukuran sensornya yang lebih mini. Menjadikan kamera dgn sensor APS-C lebih ringkas daripada kamera dengan sensor Full Frame.

Inzet : APS-C Camera (EOS 700D) vs Full Frame Camera (EOS 5D Mark iii)

 

4. Bisa menggunakan lensa fullframe

Jika kamera full frame hanya bisa dipasangkan dengan lensa full frame, hal ini tidak berlaku dengan kamera ber-crop-factor. Kamera APS-C dapat memakai baik itu lensa full frame atau lensa APS-C. Lensa full frame dianggap lebih tajam & berkualitas dibanding dengan APS-C, misal, seluruh lensa ser Luxury Canon ialah lensa EF.

 

gemma2017

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *